Koleksi Sajadah Batik di Muria Batik Kudus

KUDUS-Perajin batik Kudus, Yuli Astuti melakukan terobosan baru untuk menyambut datangnya bulan puasa dan lebaran mendatang. Perajin yang mengangkat Batik Kudus setelah mati suri puluhan tahun lamanya tersebut membuat sajadah dari kain batik dengan motif yang beraneka macam. “Yang jelas ada gambar masjid yang kami kombinasikan dengan motif Batik Kudus, seperti pari jotho dan gebyok Kudus” paparnya saat ditemui di Galery Muria Batik Kuds, Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog, Kabupaten kudus (1/8) kemarin.

Yuli tetap menggunakan kain catoon primisima sebagaimana dipergunakannya untuk bahan baju, menurutnya sajadah batik selain dapat dipergunakan untuk ibadah juga dapat dipergunakan untuk syal atau ridak. Batik yang dibuat menggunakan batik tulis sehingga warna dan motif terlihat eksklusif dan istimewa. Para pembeli hanya diberi tarif Rp 50 ribu hingga Rp 65 ribu setiap sajadah yang dibuat.

“Untuk yang menginginkan harga miring, kami rencana juga membuat sajadah batik dengan menggunakan batik cap yang proses produksinya tidak terlalu rumit sehingga harga tidak terlalu mahal” paparnya. Untuk sajadah batik kelas dua tersebut ia beri harga Rp 25 ribu hingga 40 ribu, harga tersebut menurutnya terbilang sangat murah mengingat batik yang selama ia produksi berkisar Rp 300 ribu hingga Rp 4 juta.

Ide pembuatan sajadah batik muncul saat saudaranya pulang dari haji beberapa waktu lalu, dirinya ingin membantu dengan memberikan sovenir atau merchandise batik kepada saudara dan tetangga yang datang, namun karena umumnya oleh-oleh yang diberikan adalah sajadah dirinya kemudian berinisiatif untuk membuatnya.

Pembuatan sajadah batik Yuli buat baru di tahun ini, khusus untuk menyambut bulan Ramadhan dan Lebaran. Karena belum begitu popoler ia hanya membuatnya berdasarkan pesanan dari koleganya di beberapa kota, seperti Kudus dan Jakarta. Untuk stok ia hanya membuat beberapa puluh saja sebagai persiapan jika tiba-tiba ada yang ingin memborong sajadah unik tersebut.

Disamping membuat sajadah dari batik, di galerynya tersebut ia juga membuat batik kaligrafi huruf arab. Batik kaligrafi tersebut tidak dipergunakan untuk sajadah, baju atau pakaian lain. “Batik kaligrafi ini hanya untuk hiasan dinding, bukan untuk pakaian. Karena kaligrafi yang dibuat memuat ayat-ayat Al-Quran, sehingga tidak diperbolehkan untuk bahan pakaian atau sajadah untuk menghormati ayat-ayat yang terkandung didalamnya” tuturnya. (Suwoko)

Sumber http://seputarkudus.com/2014/01/koleksi-sajadah-batik-di-muria-batik.html

Kisah Yuli Astuti, rela daki Gunung Muria demi cari jejak batik Kudus

Menjadi orang pertama atau pelopor dalam membangkitkan sesuatu yang sudah lama hilang memang butuh pengorbanan yang keras. Tak jarang materi juga harus ikut terkuras demi mencapai keinginan tersebut. Hal itulah yang juga dialami oleh Yuli Astuti (34), warga Desa Karangmalang RT 04 RW 02 Nomor 11, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Dialah perempuan yang pertama kali membangkitkan batik Kudus yang telah lama hilang dari peredaran setelah mengalami kejayaan pada era tahun 1930-an. Saat itu, motif batik Kapal Kandas dari Kudus menjadi motif yang banyak digemari para pecinta batik. Tapi seiring berjalannya waktu, perkembangan batik Kudus kalah dengan industri rokok yang semakin menjamur di kota itu. Banyak orang yang lebih tertarik untuk bekerja di perusahaan rokok ketimbang menekuni kerajinan batik. Kepada brilio.net, Kamis (30/7), Yuli bercerita bahwa ia memulai usahanya hingga bisa mengangkat Batik Kudus dari nol. Sebelumnya ia sama sekali tak mengenal Batik Kudus. Bahkan ia pun tak tahu sama sekali mengenai proses pembuatan batik.

Hingga pada tahun 2005 ia secara kebetulan mengikuti forum yang diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Kudus. Pada kesempatan itu didatangkan satu-satunya pengrajin Batik Kudus bernama Ibu Niamah yang saat itu telah berumur 75 tahun. Ketika itu, hanya Ibu Nik yang masih bertahan menjadi pembatik di Kudus.

“Setelah tahu bagaimana sejarah Batik Kudus dahulu, keinginan saya bukan ingin menjadikan batik Kudus sebagai bisnis, melainkan ingin melestarikan motif yang hampir punah itu,” terang Yuli yang merupakan lulusan sekolah fashion ini.

Untuk menggali informasi tentang batik Kudus motif Kapal Kandas yang fenomenal itu, Yuli harus melalui proses yang tak mudah. Ia mencoba mencari jejal 43 pembatik Kudus zaman dahulu, tapi tetap tak ada jejaknya. “Saya cari anak-anaknya tapi juga nggak punya koleksi batik tersebut,” cerita Yuli.

Ciri Utama Batik Kudus

Ciri Utama Batik Kudus

Di tengah derasnya tren mode masa kini yang digemari para generasi muda, wastra Nusantara seperti batik tetap memiliki tempat khusus di hati masyarakat Indonesia.

Sekarang, busana batik tidak hanya dikenakan oleh orangtua, tapi generasi muda pun tidak malu dan canggung mengenakan batik dalam berbagai kesempatan.

Namun, tidak banyak yang mengenali ragam motif batik yang begitu beragam karena setiap daerah di Jawa memiliki motif batik sendiri yang unik dan indah.

Salah satu motif batik yang kini tengah kembali menggeliat adalah batik Kudus. Nah, seperti apa batik Kudus dan karakteristiknya dibandingkan dengan batik lainnya?

Yuli Astuti, penggiat batik Kudus dan pemilik galeri Muria Batik Kudus, batik Kudus merupakan salah satu golongan batik pesisir, seperti batik Pekalongan, batik Jepara, maupun batik Lasem. Jadi, batik ini pun memiliki warna yang cerah dengan motif unik yang begitu khas dan mudah dikenali.

Satu hal yang membedakan batik Kudus dengan batik lainnya menurut Yuli adalah akulturasi budaya antara budaya China, pribumi, dengan unsur Islam.

Hal ini mudah dipahami, karena Kudus merupakan asal dari dua Wali Songo penyebar Islam di Tanah Jawa, yakni Sunan Kudus dan Sunan Muria. Sehingga, ada unsur-unsur tersebut dalam motif batik Kudus.

Aksen Islam dalam batik Kudus hadir dalam motif-motif seperti Menara Kudus, kaligrafi Islami, dan sebagainya.

Namun, motif batik Kudus juga mengandung kearifan lokal masyarakat Kudus. Hal ini terlihat dari munculnya motif seperti Kapal Kandas, Parijotho, Gebyok, dan isen-isen beras kecer.

Motif – Motif Batik Kudus

Motif batik Kudus misalnya adalah Parijotho yang amat dikenal oleh masyarakat Kudus. Motif lainnya adalah Menara Kudus, Gebyok, Pakis Haji, Bulusan, Kapal Kandas, dan sebagainya. Kami menghadirkan folklor dalam motif dan unsur budaya asli Kudus dalam motif batik,” ujar Yuli di sela-sela bedah buku Batik Kudus The Heritage di Galeri Indonesia Kaya, Senin (26/10/2015).

Selain itu, karakteristik lain batik Kudus adalah pemilihan warna. Batik Kudus biasanya dominan dengan warna tradisional sogan atau warna cokelat maupun biru indigo.

Warna sogan sebenarnya kental terlihat pada batik-batik dari Yogyakarta maupun Solo. Namun, kehadiran warna sogan pada batik Kudus pun diisyaratkan sebagai akulturasi maupun pengaruh yang diperoleh dari jenis batik lainnya. (kompas.com)

Beragam Cerita Menarik Motif Batik Kudus

Batik, Kain khas dengan berbagai corak tersebut terkenal sebagai kain khas budaya bangsa Indonesia.

Batik merupakan kerajinan yang telah ada sejak zaman Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit pada abad ke-7 sampai 14. Pesona dari motif, dan kerumitan tekniknya menjadi daya tarik hingga saat ini sebagai warisan budaya Indonesia yang mendunia, tak terkecuali Batik Kudus.

Batik Kudus berasal dari sebuah kampung di Kudus Kulon, yaitu Kampung Langgar Dalem. Kampung tersebut dihuni oleh sebagian besar anak dan kerabat dari Sunan Kudus.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, para wanita di desa tersebut biasa menenun dan juga membatik di mana proses akhir dilakukan di Sungai Gelis di timur Kampung Langgar Dalem.

Dilansir dari buku “Batik Kudus, The Heritage,” karya Miranti Serad Ginanjar pada Senin (26/10) keindahan batik yang lahir dari tangan telaten wanita Kampung Langgar Dalem ternyata mampu menarik beberapa saudagar dari Arab. Para saudagar yang mayoritas pedangan dan pengusaha Muslim tersebut menjadikan Batik Kudus sebagai komoditi yang diperdagangkan.

Sejak saat itu mulai berkembang motif kaligrafi yang kental akan sentuhan Islam yang menghiasi beberapa model Batik Kudus. Selain kaligrafi, motif Batik Kudus yang juga dikenal luas dan melegenda, yaitu lar (sayap) dengan isen-isen (isian) beras kecer (beras tercecer).

Selain Arab, Batik Kudus yang didominasi oleh warna biru indigo dan coklat soga ini ternyata juga dipengaruhi oleh budaya Belanda. Hal tersebut ditunjukkan dengan motif-motif tidak lazim yang muncul pada periode 1840-1920-an seperti flora dan fauna dari benua Eropa, serta ornamen yang terdapat dalam dongeng sastra Belanda.

Uniknya, motif-motif Batik Kudus dengan latar budaya Belanda tersebut lahir dari tangan wanita asli dari Belanda sendiri, seperti Carolina Josephina con Franquemont, Chaterina Carikiba van Oosterom, Eliza van Zuylen, B. Fisher, Lien Metzelaar, dan Wiler.

Banyaknya budaya yang mempengaruhi Batik Kudus, mulai dari Jawa, Arab, Tionghoa, dan Belanda, membuat batik ini memiliki motif yang kaya.

Kudus yang terkenal dengan industri kretek, menjadikan Batik Kudus sebagai media promosi industri tersebut sehingga terciptalah kolaborasi yang indah. Kolaborasi tersebut diwujudkan dalam produk Batik Kudus yang memiliki motif rokok, termasuk alat pembuat kretek, logo perusahaan, sampai seragam pegawainya.

Mengenal Batik Kudus Lewat Motifnya

Yuk mengenal batik Kudus! Batik Kudus dikenal sebagai batik peranakan yang halus dengan isen-isen (isian dalam raga, pola utama) yang rumit. Batik ini didesain dengan warna-warna sogan (kecoklatan) yang diberi corak parang, tombak, atau kawung. Batik tersebut juga dihias dengan rangkaian bunga, kupu-kupu, serta ragam motif lainnya yang sesuai dengan ciri khas Kabupaten Kudus. Yuk, kenali batik Kudus lewat motifnya berikut ini.

  1. Tembakau Cengkeh


    Ini merupakan batik Kudus yang didesain dengan motif tembakau cengkeh. Mengapa didesain demikian? Sebab, Kudus merupakan kota yang terkenal dengan rokok kreteknya. Sehingga, motif tersebut menjadi salah satu ciri khas dari batik Kudus itu sendiri.

  2. Legenda Bulusan


    Batik Kudus yang satu ini diberi corak dengan tema cerita rakyat Bulusan. Pemilik Muria Batik Kudus Yuli Astuti menjelaskan bahwa cerita rakyat Bulusan yaitu berdasarkan tradisi yang diadakan setiap tahun, tepatnya tujuh hari setelah hari raya Idul Fitri. Tempat diadakannya tradisi bulusan ini berada di Desa Bulusan yang konon menurut cerita dahulu ada seorang yang dikutuk menjadi seekor bulus (Kura–kura). Untuk meramaikan tradisi ini biasanya diadakan pasar malam.

  3. Motif Kawung


    Batik dengan corak kawung ini mempunyai makna yang melambangkan harapan agar manusia selalu ingat akan asal usulnya. Berpola bulatan yang serupa dengan buah Kawung (sejenis buah kelapa, yang terkadang juga dianggap sebagai buah kolang-kaling) yang ditata rapi secara geometris. Batik Kudus yang satu ini juga dihias dengan bunga-bunga cantik.

  4. Kapal Kandas


    Yuli Astuti berhasil mengembalikan kejayaan batik Kudus melalui motif yang paling khas yaitu Kapal Kandas. Motif tersebut terinspirasi dari riwayat kapal Dampo Awang milik kerajaan Cina yang kandas di sekitar Gunung Muria, Kudus pada tahun 1400-an. Ketika itu, kapal tersebut mengangkut rempah-rempah yang berkhasiat sebagai obat-obatan. Lalu, rempah-rempah itu dibibitkan dan dikembangkan oleh para petani di sekitar Gunung Muria.

  5. Motif Gebyok


    Gebyok adalah semacam partisi khas Jawa yang digunakan untuk sekat antar ruang dalam rumah. Fungsinya bukan hanya sebagai partisi, tapi juga sebagai pintu dan juga pengganti dinding. Kudus juga terkenal dengan gebyok. Jadi tak heran bila salah satu batiknya diberi motif gebyok.

Cerita Pengrajin Batik Kudus Bikin Motif Kretek dan Tanaman Parijoto

Jakarta – Batik Kudus dikenal dengan coraknya yang khas sehingga membedakan dari jenis batik dari daerah lain, salah satu contohnya adalah motif Langgar Dalem. Selain motif tersebut, ada banyak motif lainnya yang dikembangkan sampai sekarang.

Hal ini dikatakan oleh Yuli Astuti, salah satu pengrajin dari Batik Kudus, yang hadir di bedah buku ‘Batik Kudus the Heritage’ di Galeri Indonesia Kaya (GIK). Dia membuat motif khas kota Kretek.

“Saya terinspirasi dari Kudus sebagai kota kretek, jadi membuat motif kretek. Dalam setiap motif yang saya bikin, pastinya ada filosofi dan kekhasan yang ditampilkan. Yang kalau orang lihat, maka sudah ketahuan itu dari Kudus,” ujarnya, Senin (26/10/2015).

Yuli sendiri pun sudah mendaftarkan 20 motif kreasinya Kudus sebagai hak ciptanya. Selain motif kretek, Yuli juga membuat motif yang berasal dari tanaman Parijoto.

Tanaman khas Gunung Muria tersebut biasa digunakan untuk acara 7 bulan-an di Kudus. Menurutnya, semakin hari tanaman tersebut kian langka dan harus dilestarikan. “Motif apapun yang saya buat harus punya arti dari budaya Kudus,” ungkapnya.

Selain dua motif tersebut, di Kudus juga berkembang motif kaligrafi yang kental akan sentuhan Islam yang menghiasi beberapa model Batik Kudus. Selain kaligrafi, motif Batik Kudus yang juga dikenal luas dan melegenda, yaitu lar (sayap) dengan isen-isen (isian) beras kecer (beras tercecer). Hingga kini, Yuli bersama pengrajin lainnya masih menciptakan motif batik khas Kudus.

http://hot.detik.com/read/2015/10/27/082339/3054025/1059/cerita-pengraji…