Meriahkan Hari Batik, Pelajar SMA Pamerkan Busana Batik Kudus di Mal

KUDUS – Sejumlah siswa SMA di Kabupaten Kudus mengikuti fashion show di Kudus Extension Mall (KEM), Minggu (1/10/2017).

Pelajar yang tergabung dalam Komunitas Muria Talent itu memeragakan berbagai gaya dengan mengenakan batik khas Kota Kretek.

Siti Sylvia Andriani, seorang model yang turut serta dalam ajang tersebut, mengatakan, kegiatan tersebut juga dimaksudkan untuk mengenalkan batik Kudus..

“Kami ingin memromosikan batik khas Kudus supaya masyarakat luas lebih mengenalnya,” kata Sylvia yang mengenakan baju rancangan Yuli Astuti.

Sebelum tampil, Sylvia mengaku menyiapkan mental agar tidak grogi saat tampil di hadapan pengunjung KEM.

“Meski sudah sering mengikuti fashion show, persiapan harus tetap dilakukan,” kata dia.

Yuli Astuti, desainer yang juga pemilik brand Batik Muria Kudus mengatakan, beberapa batik yang diperagakan pada acara tersebut memiliki filosofi mendalam. Misalnya, motif beras tumpah yang bermakna kemakmuran masyarakat Kudus. Ada juga motif parijoto yang merupakan buah khas yang tumbuh di lereng Gunung Muria.

“Bagi perempuan hamil yang makan buah parijoto diyakini anaknya yang lahir akan berparas tampan rupawan atau cantik jelita,” katanya.

Yuli memilih memamerkan rancangannya di KEM karena alasan pusat perbelanjaan tersebut banyak dikunjungi masyarakat, baik asal Kudus maupun daerah sekitarnya. “Sehingga, promosi batik Kudus bisa lebih luas,” ujarnya. (*)

                         Parijoto, Jadi Motif Batik Kudus yang Diakui Hak Ciptanya

Sumber : http://jateng.tribunnews.com/2017/10/02/meriahkan-hari-batik-pelajar-sma-pamerkan-busana-batik-kudus-di-mal

Yuli Astuti, Angkat Kembali Kapal Kandas Batik Kudus

Perempuan yang satu ini memang luar biasa, bukan karena kuat
mengangkat kapal sungguhan, namun perempuan bernama lengkap Yuli Astuti ini
berhasil mengembalikan kejayaan batik Kudus menjadi kekeayaan budaya nasional
dan salah satu motif yang paling khas dibanding batik di daerah lain adalah
Kapal Kandas.

Perempuan yang lahir pada 15 Desember 1980 ini awalnya
mengikuti pertemuan yang diadakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten
Rembang untuk pelatihan membatik bersama 9 orang lainnya, namun hanya dirinya
yang bertahan untuk mengembangkan batik. Dari acara tersebut ia akhirnya
mengetahui bahwa Kudus pernah berjaya dalam pembuatan batik, kemudian ia sangat
tertarik dan termotifasi untuk mengangkat kembali batik yang sempat tenggelam
di kota kretek tersebut, Yuli akhirnya memutuskan untuk menggali lebih dalam
tentang batik Kudus.

“Pertamanya sangat sulit untuk menggali literatur batik
Kudus, tapi saya tidak menyerah,” paparnya (26/6) di galerinya yang beralamat di
Desa Karang Malang RT 04 RW 02 Nomor 11, Gebog, Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu.

“Bisa dikatakan harus berdarah-darah awalnya, saya sama
sekali tak paham tentang batik, teknik pembuatannya, apalagi tentang sejarah
batik Kudus. Saya harus ke Jogja, Solo dan Pekalongan dengan bersepeda motor
hanya untuk belajar dan menggali tentang batik Kudus,” paparnya. Dalam
perburuannya selama kurang lebih dua tahun, ia harus rela merogoh kocek hingga
Rp 60 juta, diantaranya untuk membeli batik Kudus dari seorang kolektor.

Perempuan berkulit kuning langsat tersebut menambahkan
dirinya harus menapak tilas kejayaan batik Kudus dari berbagai sumber. Setelah
lama mencari akhirnya ia menemukan sosok wanita yang hingga sekarang masih
membatik dengan motif  khas Kudus di
daerah Kaliwungu.

“Bu Niamah adalah satu-satunya orang Kudus yang masih
membatik di usianya yang telah renta, beliau lah yang mengajari saya tentang
dasar dan teknik membatik serta menunjukkan motif Kapal Kandas yang terkenal
itu” paparnya.

Yuli menceritakan, dinamakan Kapal Kandas karena ribuan
tahun silam kapal Sam Po Kong yang berlayar melewati pesisir Muria kandas
karena rusak, para penumpang asal negeri tirai bambu tersebut akhirnya banyak
yang bermukim di lereng Muria, cerita tersebut akhirnya diabadikan dalam motif
batik oleh masyarakat Kudus.

Lebih lanjut Yuli menceritakan batik Kudus mengalami
kejayaannya di tahun 1930an dengan berbagi motif yang didominasi corak pesisir
yang berwarna-warni dan akulturasi kebudayaan china. Tak hanya itu motif
kaligrafi dan kebudayaan Islam juga mengilhai pembuatan batik karena pengaruh
para wali yang menyebarkan agama di Kudus.

Menurut Yuli sebelum Pekalongan dikenal sebagai kota batik,
Kudus lebih dulu dikenal sebagai pelopor di Jawa Tengah selain Solo. Bahkan
para perajin di Pekalongan dulu banyak memuat motif Kudus untuk diproduksi.
Baru di akhir tahun 1970an batik Kudus mengalami penurunan karena banyak
masyarakat Kudus yang memilih untuk menjadi pengusaha rokok kretek, bahkan di
tahun 1990an hingga tahun 2000an batik sama sekali tak dikenal.

Kembali Mendunia

Kerja kerasnya selama kurun waktu 6 tahun ini akhirnya batik
Kudus kembali dikenal, tidak hanya di kancah nasional namun juga banyak diburu
oleh kolektor luar negeri. Usaha kerasnya yang harus menggali sendiri literasi
dan sejarah tentang batik Kudus sekarang membuahkan hasil.

Dalam membuat batik Kudus ia tak melupakan Kapal Kandas,
namun ia juga mengeksplorasi berbagai macam motif lain yang ia ciptakan sendiri
dengan mengambil inspirasi dari hasil alam di Kudus, seperti Pari Jotho, Beras
Kecer dan Pakis Haji. Karyanya tersebut ia perlihatkan di galerinya yang ia
beri nama “Muria Batik Kudus” dan telah terdaftar di HAKI dengan nomor registrasi
IDM000197060.

Dalam memproduksi batik, Yuli dibantu 14 karyawan yang ia
bina dari nol. 7 karyawan bekerja di galerinya dan 7 lainnya memproduksi di
rumah mereka masing-masing. “Mereka ini yang sebetulnya memberi semangat kepada
saya, bersama mereka saya belajar dari nol. Saya sadar betul bahwa untuk
membatik dibutuhkan keterampilan khusus, makanya mereka ini saya gondeli”
tuturnya.

Berbagai pameran tingkat nasional ia ikuti demi mengenalkan
kembali batik Kudus. berbagai galeri di ibu kota pun memajang karya batiknya,
di antaranya di tebet dan menteng. “Sambutan masyarakat pun lur biasa, tak
hanya masyarakat umum, namun juga pejabat dan para artis pun mengoleksi batik
yang saya buat, bahkan orang luar negeri seperti Malaysia, Inggris, Jerman,
Jepang juga tertarik untuk mengkoleksi” katanya.

“Bahkan sekarang saya ramai diundang untuk menjadi
narasumber dan memberi pelatihan membatik di mana-mana. Dalam waktu dekat ini
saya diundang untuk menjadi narasumber di Museum Batik Nasioal di Jakarta dalam
sebuah seminar” katanya.

Untuk menjaga agar tidak dilupakan lagi, Yuli menggandeng
berbagai unsure masyarakat di Kudus, diantaranya pemerintah, perusahaan dan
juga para siswa. Targetnya tidak muluk-muluk hingga menjadikan batik Kudus
untuk masuk dalam muatan lokal mata pelajaran di sekolah, hanya mendapat
apresiasi dari masyarakat pun ia sudah merasa senang. “Di galeri ini (Muria
Batik Kudus) saya telah menyediakan tempat untuk anak-anak untuk belajar batik,
mereka tidak kami bebankan biaya, hanya sekedar untuk mengganti ongkos
produksi” paparnya.

Sumber :  http://seputarkudus.com/2011/07/yuli-astuti-angkat-kembali-kapal-kandas.html

Padu Padan Batik Kudus untuk Hijabers

BATIK Kudus kini mulai populer. Pecintanya pun tidak terbatas, termasuk para hijabers yang menggunakannya untuk sehari-hari.

Menurut salah satu perajin batik Kudus, Yuli Muria, batik kudus digemari hijabers karena unik. Biasanya, mereka banyak mencari batik Kudus untuk dibuat rok batik dan outwear batik.

“Pengguna hijab banyak yang memesan rok, dan juga outwear batik, serta bolero,” jelas Yuli kepada Okezone di Grand Indonesia, Jakarta Pusat.

Lantaran batik sudah penuh dengan motif dan warna, maka perlu padu padan yang tepat dalam menggunakan batik Kudus. Berikut ulasan padu padan busana batik Kudus untuk wanita berhijab sebagaimana yang diungkapkan oleh Yuli Muria.

Rok yang banyak dipilih orang adalah rok dengan bentuk A-line yang melebar ke bawah. Banyak orang menggunakan rok batik ini dipadupadankan dengan atasan sederhana seperti borkat atau bahan sifon yang bermotif polos.

“Motif batik kan sudah ramai, jadi biasanya rok batik Kudus dipadukan dengan sifon atau brokat,” jelas Yuli Muria.

Sementara itu, untuk atasan seperti bolero batik, biasanya dipadukan dengan celana jeans, dan juga rok katun dengan motif batik pada pinggiran, atau rok polos sebagai padanan yang tepat.

“Di Kudus banyak yang mengaplikasikan bolero dengan rok katun, atau rok polos, dan juga celana jins” tutupnya.

 

Sumber : https://lifestyle.okezone.com/read/2015/10/27/194/1238653/padu-padan-batik-kudus-untuk-hijabers

Perajin Batik Perpanjang Merek Dagang

KUDUS– Setelah beberapa tahun yang lalu perajin batik mendaftarkan hak cipta motif batik di Dirjen Kekayaan Intelektual pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, tahun ini perajin batik melakukan perpanjangan hak merek pada instansi yang sama. Hal ini bertujuan agar merek tersebut tetap menjadi milik perajin dan desainer batik, di sisi lain hal tersebut memiliki kekuatan hukum yang jelas sekaligus menjaga tindak plagiat merek dan hak cipta.

”Merek Muria Batik memang sudah 10 tahun kami daftarkan ke Dirjen Kekayaan Intelektual. Tahun ini, diperpanjang masa berlakukan,” kata desainer batik Kudus, Yuli Astuti, yang juga sempat mendaftarkan hak cipta (untuk motif) beberapa tahun lalu. Keuntungan yang didapat, lanjut dia, tentunya adalah merek dagang dan motif benar – benar terlindungi secara hukum. Desain dan merek tetap menjadi milik perajin atau desainer batik.

”Di sisi lain, secara hukum merek dan motif tersebut minim untuk dilakukan plagiat karena ada sanksi yang cukup tegas yang berlandaskan hukum,” paparnya. Mengenai pengertian hak merek, Yuli menjelaskan, adalah tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa.

Untuk hak cipta adalah hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberi izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan undang-undang hak cipta yang berlaku. ”Dengan demikian perajin dan desainer batik Kudus tidak merasa kahwatir apabila karya, berupa motif maupun merek dagang diplagiat tanpa ada izin,” terangnya.

Terkait dengan perajin batik yang sudah mendaftarkan hasil karyanya ke Dirjen Kekayaan Intelektual, kata dia, sampai saat ini hanya segelintir saja. ”Sebenarnya untuk mendaftarkan karya ke Dirjen mudah, dan biayaanya pun terjangkau. Di sisi lain prosesnya juga cepat, sehingga tidak ada lagi kendala,” jelasnya.

Mengenai hal tersebut apakah berpengaruh pada pemasaran produk, ia menjelaskan, tentu saja memiliki pengaruh. Karena konsumen akan terlindungi keaslian produk tersebut benar – benar dari perajin batik yang sebenarnya. ”Di sisi lain, agar konsumen dan produsen menaati hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen, serta negara menjamin kepastian hukum,” katanya.

 

sumber : http://www.suaramerdeka.com/smcetak/detail/8363/Perajin-Batik-Perpanjang-Merek-Dagang

SERBU PENGUNJUNG: Pengunjung menyerbu salah satu sentra industri batik Kudus di Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog, Kudus.

KUDUS, suaramerdeka.com – Pekan Lebaran, sentra industri batik Kudus diserbu pengunjung dari berbagai daerah dan tentunya ini menjadi keuntungan tersendiri bagi sebagian perajin batik Kudus. Disisi lain kerajinan batik menjadi destinasi yang tidak kalah menariknya dengan destinasi wisata.

“Lebaran menjadi momen yang tepat untuk memasarkan sejumlah produk batik khas Kudus kepada konsumen yang datang dari berbagai wilayah,” kata desainer batik Kudus, Yuli Astuti, Minggu (2/7).

Pemilik Galeri Muria Batik tersebut memiliki pandangan bahwa tidak sekedar memasarkan batik, namun juga menanamkan imej bahwa batik Kudus memiliki kekhasan yang tidak dimiliki batik dari wilayah lain. “Dari mulai corak, warna, serta karakter, batik Kudus memang berbeda dan tentunya memiliki kualitas yang cukup bagus,” katanya yang juga ketua Forum UMKM Kudus itu.

Pihaknya juga berharap bahwa batik Kudus bisa menjadi suvenir khas Kudus, sama seperti kuliner khas yang dimiliki Kudus. “Ini juga menjadi media yang tepat dan efektif untuk memasarkan batik Kudus,” jelasnya.

Pihaknya juga menuturkan bahwa untuk angka kunjungan tahun ini jauh lebih bagus dibandingkan dengan tahun lalu, dan jika dilihat kenaikannya hampir dua kali lipat. “Artinya ada perkembangan ekonomi yang bagus, minat beli masyarakat kembali meningkat,” terangnya.

 

sumber : https://blogduniaindustri.blogspot.co.id/2017/07/sentra-industri-batik-kudus-diserbu.html

Batik Kudus Masih Berpeluang Diekspor

KUDUS– Peluang ekspor produk batik Kudus hingga kini masih terbuka lebar, hanya saja sampai dengan hari ini belum banyak perajin yang bisa melakukan hal tersebut. Pasalnya ada beberapa persyaratan yang dimiliki oleh perajin agar produk tersebut bisa dipasarkan ke luar negeri.

Pelopor batik Kudus, Yuli Astuti saat ditemui kemarin memaparkan, persyaratan tersebut sebenarnya ada beberapa hal bisa jadi yakni pertama adalah persoalan kualitas dari produk baik tersebut, baik dari segi desain, motif serta bahan baku yang digunakan. ’’Kemudian kedua adalah mentaati legalitas hukum bagaimana ekspor tersebut dilakukan, dan terakhir adalah pangsa pasar.

Apakah masing – masing perajin sudah memiliki pangsa pasar di luar negeri, misalnya negara – negara Eropa atau Asia,’’paparnya. Memang hal tersebut tidak bisa dipandang sebelah mata, sebab bagaimana pun perajin batik tidak hanya memikirkan sisi kualitas produksi saja, melainkan aspek penting yang berkaitan dengan akses ekspor juga harus dikedepankan.

’’Satu hal lagi yang sebenarnya cukup penting yakni perajin juga memiliki banyak link untuk menuju kesana, sehingga hal tersebut bisa mendukung kelancaran ekspor batik,’’terangnya. Namun sayangnya sampai saat ini belum ada perajin yang melakukan ekspor batik secara langsung, akan tetapi mereka cenderung memanfaatkan sejumlah event kegiatan pameran maupun eksebisi baik di dalam maupun di luar kota.(SM Network)

 

Sumber : http://www.iklansuaramerdeka.com/batik-kudus-masih-berpeluang-diekspor/

Yuli Astuti, Demi Selembar Kapal Kandas

Laporan Wartawan Kompas, Neli Triana

”Sudah biasa, saya pakai sepeda motor ke mana-mana. Saya harus sering pergi untuk sekadar belanja pewarna atau memenuhi jadwal belajar teknik membatik. Untuk itu saya bisa ke Solo, Yogyakarta, atau Semarang. Kadang kecapekan, tetapi setelah melihat hasil batik yang saya buat, semua rasa lelah hilang,” kata Yuli Astuti.

Perempuan berusia 28 tahun ini ditemui di rumahnya, di tengah sawah di Desa Karang Malang RT 04 RW 02 Nomor 11, Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, awal Agustus lalu. Saat itu Yuli baru kembali dari Yogyakarta yang berjarak sekitar 150 kilometer dari Kudus. Dia mengikuti pameran batik di Yogyakarta. Tidak tampak kelelahan di wajahnya, dia justru begitu bersemangat setelah mengeruk pengalaman dari kegiatan yang diikutinya.

Perempuan berkulit putih ini adalah salah seorang dari segelintir warga asli Kudus yang mempertahankan dan mengembangkan pola-pola batik lokal. Salah satu motif batik lokal yang tidak ditemui di daerah lain di Indonesia adalah motif kapal kandas, berbentuk kapal terbalik.

Menurut Yuli, orang-orang tua pembatik di Kudus masih sering menggunakan motif ini. Hanya saja, sejarah pasti tentang motif tersebut sulit sekali digali. Bahkan, tak hanya motif kapal kandas, tetapi selama dua tahun terakhir dia mencoba mencari runutan sejarah batik kudus.

Tidak hanya menelusurinya dari para tetua di kawasan Kota Kretek tersebut, Yuli juga meminta pendapat dari pengelola persatuan batik tulis di Semarang dan Yogyakarta, para kolektor batik, hingga para pembatik senior di kawasan pesisir di Tuban sampai Jakarta.

Selama bergerilya ke sana dan kemari mencari asal-usul batik kudus, Yuli harus merogoh saku paling sedikit Rp 60 juta untuk menebus batik tulis kudus kuno dari tangan kolektor.

”Data yang didapat dari berbagai cerita menunjukkan, motif kapal kandas diilhami dari kandasnya kapal China di kawasan ini, mungkin lebih dari 200 tahun lalu. Kapal bangsa China tersebut kandas dan penumpangnya yang selamat kemudian bermukim di lembah Gunung Muria atau Kudus. Batik kudus sama seperti batik di daerah pesisir lainnya, amat dipengaruhi budaya China,” kata Yuli.

Kapal kandas bukan pertanda kemalangan, tetapi justru era baru kehidupan dan kebudayaan di Kudus. Karena itu, motif kapal kandas terus diabadikan dalam lembaran-lembaran batik tulis membaur dengan motif lain yang menggambarkan potensi alam lembah Muria bertahun- tahun silam hingga kini.

Dalam lembaran-lembaran batik hasil karya Yuli, tergambar juga motif buah kopi, jahe-jahean, palijadi, patijotho (sejenis tanaman obat), ikan, dan motif- motif baru hasil kreasinya seperti menara kudus, salah satu ikon Kota Kudus. Motif buah kopi juga menjadi andalan selain kapal kandas karena menggambarkan produk unggulan Kudus yang banyak ditanam di lereng Gunung Muria.

Dari hasil kopi itu pula, tutur Yuli, Kudus menjadi kawasan yang diperhitungkan pada masa penjajahan Belanda. Memperkuat pendapat Yuli, dalam buku- buku sejarah Indonesia disebutkan, awal abad ke-19 saat pemerintahan Gubernur Jenderal Willem Daendels, hasil perkebunan kopi dari kawasan Gunung Muria diangkut melewati Jalan Raya Pos atau jalan lintas di pesisir pantai utara Jawa. Kopi menjadi komoditas yang menjanjikan di dunia perdagangan internasional kala itu.

Sampai era 1970-an, masih banyak perempuan membatik di desa-desa di sekitar Kota Kudus. Batik tulis dengan warna-warna alam dari buah pace, daun mangga muda, atau kunyit. Batik menjadi pakaian sehari-hari dan barang dagangan yang cukup laku di tingkat lokal atau antarkota pesisir di Jawa. Namun, industri lokal ini makin tergerus oleh serbuan batik printing dan batik cap dari Pekalongan. Di sisi lain, warga Kudus lebih tertarik menjadi buruh linting di pabrik rokok.

Sejak 1980-an praktis batik kudus tak lagi berkibar, ditinggalkan oleh masyarakat pembuat dan pemakainya. Kini yang tertinggal hanya pembatik sepuh yang berusia di atas 50 tahun. Itu pun jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

Pelatihan membatik

Dua tahun lalu, Yuli yang berasal dari keluarga perajin bordir pakaian ditawari pelatihan membatik oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kudus. Dari sekitar 10 orang yang dibina, hanya Yuli yang terus melaju. Dia tetap bersemangat membangkitkan kembali kejayaan batik kudus.

Ia mau belajar dari nol, mulai dari memilih kain yang tepat, menggambar motif, memakaikan lapisan malam, hingga pencelupan untuk pewarnaan. Ratusan lembar kain batik gagal masih teronggok di rumahnya sebagai pengingat kerasnya perjuangan. Namun, belakangan ini ratusan lembar batik tulis buatannya sudah diserap pasar. Pada setiap pameran, batik tulisnya seharga Rp 350.000-Rp 2 juta per lembar ludes diborong konsumen.

Bahkan, bersama komunitas batik tulis di Semarang, Yogyakarta, dan Tuban, Yuli sering mengikuti pameran batik tingkat nasional maupun internasional. Kegigihannya mengembangkan batik kudus membuat batik ini dilirik UNESCO dan sedang dalam proses penetapan resmi sebagai salah satu warisan sejarah dunia.

Di samping itu, Yuli juga merintis pelatihan membatik bagi warga desanya meskipun baru tiga dari 10 orang binaannya yang mahir membatik.

Meski untuk semua jerih payah itu tubuhnya menjadi makin kurus, berat badannya turun dari sekitar 60 kilogram menjadi 45 kg, Yuli justru merasa segar. Terlebih jerih payahnya semakin dihargai orang.

Batik tulis karyanya mulai diminati para perancang busana nasional. Batik hasil karya Yuli juga telah terdaftar dengan nama paten Muria Batik Kudus pada Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) dengan nomor registrasi D 002007030389.

Namun, perempuan yang masih melajang ini tetap gundah karena motif-motif asli batik kudus belum semua terungkap. Kekecewaan menerpa Yuli ketika mengetahui ada buku yang memuat motif-motif kuno batik kudus justru tersimpan di Belanda, sementara dia tak punya akses maupun uang untuk mendapatkannya kembali.

”Belakangan ini batik sedang tren sehingga langkah untuk memperkenalkan batik kudus terasa lebih mudah. Namun, suatu saat tren fashion pasti akan berubah. Supaya tidak kandas lagi, saya harus memperkuat batik kudus dengan penggalian sejarah dan pengayaan motif- motifnya. Ini yang selalu menjadi pekerjaan rumah saya,” kata Yuli.


BIODATA

Nama: Yuli Astuti

Lahir: Kudus, 15 Desember 1980

Orangtua: Sahid (60) dan Istiana (50)

Pendidikan:

– SD 03 Inpres Karang Malang, Kudus

– SMP Tsanawiyah Negeri Kudus

– SMEA Negeri Kudus

– Sekolah Modiste Soen Kudus

Pelatihan:

– 18 Maret-2 April 2007 pelatihan di Jakarta difasilitasi AWCF (Asian Women In Cooperatives Development Forum), The Regional Exchange Programme, Women Entrepreneurs and Exploring Opportunities for Microenterprise Development in Cooperatives in Southeast Asia, diikuti 12 negara.

– 29 Juli-6 Agustus 2007 pelatihan di Bangkok, Thailand, juga difasilitasi AWCF dalam acara The Regional Forum- ICT Aplication in Enterprise Development, Building Networks and Opportunities for Women Entrepreneurs in Cooperatives.

 

Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2008/08/21/06081926/yuli.astuti.demi.selembar.kapal.kandas

Batik Kudus Diakui Punya Gaya yang Keren

Batik Kudus sebenarnya sudah cukup dikenal luas oleh berbagai kalangan. Termasuk di kalangan selebriti Indonesia. Beberapa artis terkenal juga pernah mengenakan batik Kudus.

Jika Anda datang ke Galeri Muria Batik Kudus di Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog, maka Anda bisa melihat aneka dokumentasi tersebut. Dari artis seperti Reza Rahardian, Anang, hingga Ashanti, pernah mengenakan batik buatan Yuli Asuti tersebut.

Batik Indonesia yang sudah diakui Unesco sebagai salah satu warisan budaya, memang mampu menarik perhatian dari masyarakat di penjuru dunia. Mereka menganggap bahwa batik Indonesia lebih keren dan bagus dari negara lain.

Hal itu juga disampaikan salah satu warga negara Singapura yang kemarin berkunjung ke Galeri Muria Batik Kudus, di Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog. Menurut Teresa, satu dari dua tamu yang berkunjung ke sana, mengatakan jika batik Indonesia memang lebih keren.

”Kalau dibandingkan batik negara lain, batik punya kamu (Indonesia, red) lebih bagus. Itu benar sekali,” terangnya kepada pemilik Galeri Muria Batik Kudus Yuli Astuti, dalam satu kesempatan.

Teresa dan rekannya, Patricia, menyempatkan diri berkunjung ke galeri batik tersebut, untuk melihat sejauhmana proses pembuatan batik khas dari kota ini. Termasuk juga menjajal sendiri bagaimana membuat batik di selembar kain.

Menurut mereka, membuat batik adalah salah satu dari pekerjaan yang mungkin paling rumit. ”Saya sudah pernah mencobanya satu kali di Singapura. Tapi ketika mencoba lagi di sini, wah ternyata memang cukup membuat capek, ya,” kata Teresa.

Yuli mengatakan, galerinya memang sering menjadi jujugan warga asing yang ingin mengetahui proses membatik. Itu sebabnya, pihaknya selalu menyediakan waktu jika ada tamu yang memang datang untuk belajar. ”Silakan saja datang, dan belajar langsung bagaimana membatik. Sehingga bisa mengetahui bagaimana sebenarnya selembar kain batik itu dibuat,” katanya.

Yuli mengatakan, pihaknya memang pernah membandingkan batik yang dibuat di Indonesia dengan negara Asia Tenggara lainnya. ”Tapi sejauh yang saya lihat dan bandingkan, memang berbeda. Batik di sana lebih mengarah kepada lukisan. Bukan batik seperti tempat kita,” jelasnya.

Bahkan, Yuli juga menemukan bahwa batik yang dijual di negara-negara tersebut, adalah batik yang berasal dari beberapa kota di Indonesia. Misalnya Pekalongan dan Solo. Namun dijual dengan harga yang cukup tinggi.

”Selembar kain batik yang memang murah di Indonesia, dijual dengan harga yang cukup tinggi di luar negeri. Mencapai ratusan ribu rupiah. Ini berarti kan, sebenarnya peluang bagi kita untuk menjual juga batik kita di luar negeri secara langsung,” paparnya.

Dikatakan Yuli, pihaknya memang harus bisa bersaing dengan produk-produk clothing yang sama dari luar negeri. Terutama dari Asia Tenggara. ’Tapi saya yakin bahwa produk batik Indonesia akan bisa bersaing, karena memiliki kekhasan tersendiri. Di mana sangat berbeda dengan produk yang dihasilkan dari negeri lainnya,” imbuhnya.

 

Sumber : http://www.koranmuria.com/2015/08/09/11017/parijoto-jadi-motif-batik-kudus-yang-diakui-hak-ciptanya.html

Parijoto, Jadi Motif Batik Kudus yang Diakui Hak Ciptanya

Akhirnya, salah satu motif batik Kudus, yaitu parijoto, diakui hak ciptanya oleh Dirjen Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) Kementerian Hukum dan HAM RI. Hal itu tentu saja membuat Yuli Astuti dari Muria Batik Kudus, yang selama ini mendaftarkan hak ciptanya, menjadi senang.

Yuli mengatakan, sebenarnya ada 10 motif batik yang kemudian didaftarkannya. Hanya saja, proses yang lama membuatnya tidak bisa kemudian langsung diakui seluruhnya.

”Memang susah sekali untuk mendaftarkan hak cipta atas motif-motif tersebut. Termasuk motif parijoto ini. Prosesnya memang sangat lama, bahkan sempat juga harus berdebat dengan kabupaten lain,” terang Yuli kepada koran muria.

Kabupaten yang juga sempat mempermasalah soal hak cipta dari motif parijoto ini adalah Kabupaten Sleman. Yuli mengaku sempat berdebat dengan pemkab setempat, karena Sleman mengakui bahwa parijoto adalah tanaman khas wilayah tersebut.

”Di lereng Gunung Merapi memang ada buah tersebut. Makanya waktu saya mematenkan motif tersebut, didebat oleh Kabupaten Sleman. Tapi setelah kita tunjukkan filosofi dan arti dari motif tersebut, termasuk sejarahnya, Pemkab Sleman tidak lagi ngotot,” paparnya.

Sejak tahun 2009, Yuli memang mencoba untuk mendaftarkan berbagai motif batik Kudus yang diciptakannya berdasar filosofi khas daerah Kudus ini. Dia tidak merasa lelah meski harus bolak-balik memperbaiki dokumen yang dibutuhkan.

Secara resmi, motif parijoto diakui hak ciptanya adalah pada 9 Juli 2015 lalu. Saat ini, Yuli tinggal menunggu sertifikat atas pengakuan tersebut. ”Total saya harus menunggu 16 bulan untuk bisa mendapatkan sertifikat tersebut. Memang lama sekali. Tapi saya lega akhirnya motif parijoto diaku sebagai milik batik Kudus,” katanya.

Morif-motif lain yang sudah terdaftar adalah Menara Kudus, parijoto kontemporer, parijoto klasik, kapal kandas, pakis haji, bulusan, merak beras tumpah, ornament kaligrafi, ukir gebyok Kudus, dan cerita soal kretek.

Diakui Yuli, pihaknya tidak akan berhenti untuk bisa mendaftarkan lagi jika nanti ada motif-motif batik khas Kudus. Meski memang bukan hal yang mudah, namun hal itu tidak akan mematahkan semangatnya.

”Banyak tahapan memang yang harus dilakukan. Misalnya saja pengumpulan dokumentasi sebagai penguat bahwa karya itu benar-benar karya asli. Dan ini yang belum diperhatikan benar oleh pelaku usaha ini. Bagaimana dokumentasi sangat penting untuk dimiliki,” terangnya.

 

sumber http://www.koranmuria.com/2015/08/09/11017/parijoto-jadi-motif-batik-kudus-yang-diakui-hak-ciptanya.html

Permintaan Batik Kudus Meningkat Usai Juara di TMII

Batik Kudus memang sudah dikenal di beberapa kalangan. Bahkan sejak menjadi salah satu juara di ajang lomba produk unggulan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) beberapa waktu lalu, permintaan batik semakin meningkat.

Efek positif dirasakan pemilik Muria Batik Kudus, Yuli Astuti, setelah berhasil menjadi juara harapan pertama, pada even di TMII lalu. ”Permintaan batik sendiri memang meningkat. Karena semakin banyak yang mengenal batik Kudus,” jelasnya.

Setelah hampir lima tahun mengikuti kegiatan yang sama, baru kali ini Kabupaten Kudus meraih juara. Dan itu menjadi satu hal yang patut dibanggakan, karena dengan demikian akan mendongkrak produk asal Kabupaten Kudus itu.

”Dampaknya memang cukup nyata. Karena memang tentunya angka permintaan pekan ini sudah mulai terdongkrak. Bahkan mencapai sekitar 50 persen,” katanya.

Yuli mengatakan, even ini sekaligus sebagai media untuk memperluas jaringan. Karena pengrajin bisa langsung berinteraksi dengan konsumen yang hadir di sana.

”Oleh karena itu kami manfaatkan dengan sebaik-baiknya even tersebut, dengan memamerkan sekaligus memasarkan produk batik khas Kudus yang berkualitas,” terangnya.

Dikatakan Yuli, meski mengalami kenaikan permintaan, namun dia tidak lantas berkutat pada hal itu saja. Namun lebih fokus pada soal pencitraan produk pada konsumen, untuk menarik minat beli.

”Di sisi lain memang perlu ada peningkatan kualitas produk. Supaya tidak mengecewakan konsumen. Makanya harus diprioritaskan mengenai hal itu,” terangnya.

Pihaknya berharap predikat juara tidak lantas membuat pengrajin berhenti di sana. Namun produk batik Kudus bisa dikenal dan disukai oleh khalayak. ”Pada akhirnya batik pun bisa menjadi ikon ekonomi di sektor UMKM,” imbuhnya.

 

Sumber http://www.murianews.com/2016/06/12/85667/ok-permintaan-batik-kudus-meningkat-usai-juara-di-tmii-murianewscom-kudus-batik-kudus-memang-sudah-dikenal-di-beberapa-kalangan-bahkan-sejak-menjadi-salah-satu-juara-di-ajang-lomba-produk.html