Batik Kudus, Sebuah Oleh-oleh Dari Kudus Yang Akan Membuat Penampilanmu Semakin Menarik

Selama ini Anda mengenal Kudus sebagai Kota Kretek yang terkenal dengan oleh-oleh Kudus seperti jenang. Sebenarnya ada satu lagi oleh-oleh Kudus yang bisa membuat penampilanmu makin manis yang bisa Anda dapatkan, yakni Batik Kudus. Continue reading “Batik Kudus, Sebuah Oleh-oleh Dari Kudus Yang Akan Membuat Penampilanmu Semakin Menarik”

Ini Alasan Mengapa Batik Warna Alam Sedang Booming

Batik Warna Alam adalah batik yang menggunakan pewarna dari tumbuh-tumbuhan. Batik Warna alam ini sekarang banyak diproduksi, mengapa demikian?

Sekarang ini tren batik warna alam sedang booming di Indonesia. Ternyata ada penyebabnya mengapa saat ini banyak batik warna alam yang saat ini sedang menjadi tren. Continue reading “Ini Alasan Mengapa Batik Warna Alam Sedang Booming”

Ragam Motif Batik Kudus, Tidak Melulu Menara atau Daun Tembakau

Motif Batik Kudus adalah motif yang diambil dari kearifan budaya Kota Kudus Jawa Tengah. Motif Batik Kudus pun bermacam-macam, mulai dari corak bangunan Menara Kudus, hingga legenda, dan kekayaan alam. Continue reading “Ragam Motif Batik Kudus, Tidak Melulu Menara atau Daun Tembakau”

Batik Khas Kudus, Perlu Dilestarikan

”Sudah biasa, saya pakai sepeda motor ke mana-mana. Saya harus sering pergi untuk sekadar belanja pewarna atau memenuhi jadwal belajar teknik membatik. Untuk itu saya bisa ke Solo, Yogyakarta, atau Semarang. Kadang kecapekan, tetapi setelah melihat hasil batik yang saya buat, semua rasa lelah hilang,” kata Yuli Astuti. Continue reading “Batik Khas Kudus, Perlu Dilestarikan”

Pengusaha Batik Kudus Buat Sajadah Batik

KUDUS, KOMPAS.com — Pengusaha batik di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, memproduksi sajadah batik. Hal itu dilakukan sebagai upaya diversifikasi produk dan motif batik untuk bersaing di tengah-tengah kemajuan industri batik rakyat. Pengusaha Muria Batik Kudus, Yuli Astuti, misalnya. Continue reading “Pengusaha Batik Kudus Buat Sajadah Batik”

Kurangi Pewarna Kimia, Para Perajin Batik Kudus Pilih Pewarna Alami

Perajin batik tulis khas Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mulai mencoba menggunakan pewarna alami untuk mengurangi ketergantungan pada produk pewarna impor yang harganya cenderung mahal karena mengikuti fluktuasi kurs dollar AS.

Untuk menggunakan pewarna alami, perajin dituntut kreatif dan memiliki motivasi tinggi karena bahan-bahan alami yang digunakan sejauh ini memang belum dijual secara bebas di pasaran.

Perajin batik tulis harus sering melakukan uji coba dengan memanfaatkan bahan baku yang ada di lingkungan sekitar. “Konsep penggunaan warna alami, memanfaatkan bahan baku alam yang ada di sekitar lingkungan sendiri, sehingga bahan baku untuk membuat warna alami benar-benar murah,” kata pemilik Sanggar Muria Batik Kudus, Yuli Astuti, di Kudus, Selasa (24/5).

Bahkan, kata dia, bahan baku yang dipakai sama sekali tidak membeli, melainkan cukup memanfaatkan yang sudah tersedia di alam.

Uji coba yang berhasil dilakukan dalam menggunakan bahan alam sebagai pewarna batik tulis, salah satunya dengan daun mangga.

Karena konsepnya memanfaatkan bahan baku alam yang ada di sekitar, kata dia, perajin batik tulis memang dituntut kreatif dan inovatif karena harus sering melakukan uji coba bahan alam yang ada di sekitar guna mengetahui kualitas warnanya.

“Hampir semua bahan alam yang ada di lingkungan sekitar bisa menghasilkan warna. Akan tetapi, untuk menghasilkan warna yang dibutuhkan untuk produk batik tulis, tentu dicari yang memiliki daya ikat cukup kuat atau tidak mudah luntur,” ujarnya.

Baca Juga : 

Selama Ramadhan, Batik Kudus Laris Manis

 

Jangan sampai, kata dia, penggunaan bahan baku alam justru membebani perajin batik sendiri, sehingga biaya proses produksinya tentu tidak berbeda jauh dengan menggunakan pewarna kimia.

Dalam rangka menambah pengetahuan soal bahan baku alam yang bisa digunakan untuk pewarnaan batik, dia mengaku, rajin mengikuti seminar maupun pertemuan komunitas batik yang membahas soal pembuatan bahan pewarnaan dari bahan baku alami, meskipun pengujian dengan pewarnaan alami untuk batik dimulai sejak tahun 2010.

“Saya juga tidak malu untuk bertanya kepada perajin batik yang jauh lebih berpengalaman soal penggunaan pewarnaan alami,” ujarnya.

Semakin banyak informasi yang diperoleh, dia yakin, bisa dicoba di tempatnya, terutama bahan baku yang memang mudah didapatkan.

Untuk saat ini, kata dia, bahan baku alami untuk menghasilkan warna yang mudah didapatkan dan hasilnya memang bagus, yakni daun mangga yang menghasilkan warna hijau.

Bahan lain yang bisa dijadikan bahan baku untuk membuat pewarna alami, yakni kulit pohon tegeran untuk menghasilkan warna cokelat, kulit buah manggis menghasilkan cokelat muda, akar pohon mengkudu, serta kulit bawang merah yang bisa menghasilkan jingga kecokelatan.

Selain itu, kata dia, ada indigo yang merupakan tumbuhan penghasil warna biru alami dan saat ini sudah ada yang menjual dalam bentuk serbuk.

Keseriusannya menekuni pewarnaan alami, kata dia, karena nantinya bisa mengurangi ketergantungan terhadap produk pewarna impor yang harganya cenderung mahal dan susah diprediksi.

Padahal, kata dia, selaku pengusaha tentunya semua yang terkait dengan biaya produksi harus bisa diprediksi sejak awal, sehingga produk yang dijual di pasaran benar-benar menghasilkan keuntungan.

Apalagi, lanjut dia, penggunaan warna alami di dunia batik tulis bukan hanya muncul di Kudus, melainkan hampir di berbagai daerah mulai memanfaatkan bahan baku alam untuk menghasilkan warna untuk pewarnaan batik tulis.

Harga pewarna kimia saat ini berkisar 300 ribu hingga 1 juta rupiah per kilogramnya, sedangkan pewarna lokal seperti indigo dalam bentuk ekstrak per kilogramnya 250 ribu rupiah. Untuk menghasilkan warna lain dari bahan yang ada di sekitar justru tidak mengeluarkan biaya alias gratis.

Dari pemanfaatan bahan baku alam, tidak hanya dari sisi biaya produksinya yang bisa ditekan, namun perajin batik tulis juga mendapatkan keuntungan dari sisi harga produknya. “Harga setiap kain batik tulis yang proses pewarnaannya menggunakan bahan alami, cukup mahal,” ujar Yulli.

Segmen batik tulis dengan pewarnaan alami, kata dia, untuk sementara masih didominasi kalangan menengah atas yang memang paham dengan batik tulis.

Bagi masyarakat awam, kata dia, penghargaannya terhadap batik tulis dengan pewarnaan alami masih kurang, mengingat pemahamannya soal batik dimungkinkan juga masih minim.

Untuk itu, dia tidak henti-hentinya mempromosikan batik tulis khas Kudus ke masyarakat di berbagai daerah, khususnya masyarakat di Kudus.

Meskipun pembeli batik tulis khas Kudus yang menggunakan pewarnaan alami masih didominasi konsumen luar daerah, beberapa warga Kudus yang paham soal batik juga mulai tertarik membelinya, meskipun harganya sedikit lebih mahal.

Muncul anggapan, kata dia, batik tulis yang menggunakan pewarnaan alami terkesan bladus dan warnanya juga kurang tajam.

Keunggulan batik tulis dengan pewarnaan alami, kata dia, justru dari sisi warna yang dihasilkan jauh lebih lembut, ketimbang menggunakan pewarna kimia.

Motif batik tulis yang diproduksi menggunakan pewarna alami, yakni motif batik kontemporer, beras tumpah, galaran, dan pari joto.

Setiap mengikuti pameran batik di berbagai daerah, kata dia, batik tulis dengan pewarna alami selalu dibawa.

Untuk saat ini, kata dia, produksi batik tulis dengan pewarnaan alami baru mencapai 40-an persen, sehingga masih didominasi batik tulis dengan pewarna kimia.

Hingga kini, dia mengaku, belum menemukan cara yang lebih cepat dalam proses pewarnaan kain batik karena selama ini masih membutuhkan waktu hingga 10 hari.

“Pencelupannya perlu diulang hingga 60-an kali agar menghasilkan warna yang bagus,” ujarnya.

Proses yang lama tersebut, cukup sebanding dengan harga jual kain batik di pasaran yang laku dengan harga cukup mahal.

Setiap potong kain batik dengan zat pewarna alami dengan motif yang sama, katanya, bisa dijual dengan harga 200 ribu hingga 2 jutaan rupiah, sedangkan pewarnaan dengan zat kimia dijual dengan harga 125 ribu per potong hingga 1 jutaan rupiah sesuai dengan motif.

Motif batik yang dikembangkan, di antaranya kapal kandas, busana kelir hasil reproduksi, pakis haji muria, pari joto, ornamen kaligrafi, merak kateliu, merak pelataran, dan biji mentimun.

Selain itu, ada pula motif batik buket beras kecer, dlorong buketan, sekar jagad, ayam malah, lunglungan, serta “air plan” dan jangkar hasil reproduksi.

Sedangkan jumlah motif batik yang diproduksi hingga sekarang mencapai 50-an jenis motif batik tulis klasik maupun kontemporer.

Adanya sentuhan pewarna alami, beberapa kalangan memang tertarik membelinya karena era sekarang juga banyak yang kembali mengenang masa lampau yang serba alami. (ant/fb)

 

SUMBER : http://www.ayopreneur.com/domestic-product/kurangi-pewarna-kimia-para-perajin-batik-kudus-pilih-pewarna-alami

Selama Ramadhan, Batik Kudus Laris Manis

REPUBLIKA.CO.ID, KUDUS – Omzet penjualan para perajin batik tulis di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, naik secara bervariasi selama Ramadhan 2012 dibanding sebelumnya.

Menurut pemilik Sanggar Muria Batik Kudus, Yuli Astuti, kenaikan omzet penjualan batik tulis mulai dirasakan sejak awal bulan puasa yang ditandai dengan kenaikan jumlah pesanan batik tulis berbagai motif.

“Jika dihitung, jumlah pesanan sejak awal bulan puasa hingga pekan ini sudah mencapai 200 potong,” ujarnya, Rabu (1/8).

Mayoritas pembelinya, kata dia, merupakan warga Kudus yang akan dijadikan tanda mata untuk relasi maupun kerabatnya yang ada di luar Kudus. Motif batik tulis yang cukup diminati, yakni ornamen kaligrafi dan menara yang menjadi ciri khas Kudus.

Baca Juga :

Koleksi Sajadah Batik di Muria Batik Kudus

 

Selain dari Kudus, ungkap Yuli, pemesan batik tulis khas Kudus juga datang dari sejumlah pembeli dari Jakarta, termasuk dari perusahaan yang hendak dijadikan tanda mata untuk tunjangan hari raya.

Meskipun pesanan mengalami lonjakan hingga puluhan persen, dibanding hari-hari biasa, harga jual batik tulis setiap potongnya tidak mengalami kenaikan. Harga jual yang ditawarkan antara Rp 100 ribu hingga Rp 1 juta per potong, yang disesuaikan dengan motif dan tingkat kesulitan dalam proses pembuatannya.

Yuli memperkirakan, lonjakan permintaan akan terlihat kembali pada saat lebaran, karena pengalaman sebelumnya banyak pemudik yang membeli batik tulis khas Kudus untuk dijadikan oleh-oleh khas selain makanan khas Kudus.

 

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/ramadhan/kabar-ramadhan/12/08/01/m82ynu-selama-ramadhan-batik-kudus-laris-manis?