Selama Ramadhan, Batik Kudus Laris Manis

REPUBLIKA.CO.ID, KUDUS – Omzet penjualan para perajin batik tulis di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, naik secara bervariasi selama Ramadhan 2012 dibanding sebelumnya.

Menurut pemilik Sanggar Muria Batik Kudus, Yuli Astuti, kenaikan omzet penjualan batik tulis mulai dirasakan sejak awal bulan puasa yang ditandai dengan kenaikan jumlah pesanan batik tulis berbagai motif.

“Jika dihitung, jumlah pesanan sejak awal bulan puasa hingga pekan ini sudah mencapai 200 potong,” ujarnya, Rabu (1/8).

Mayoritas pembelinya, kata dia, merupakan warga Kudus yang akan dijadikan tanda mata untuk relasi maupun kerabatnya yang ada di luar Kudus. Motif batik tulis yang cukup diminati, yakni ornamen kaligrafi dan menara yang menjadi ciri khas Kudus.

Baca Juga :

Koleksi Sajadah Batik di Muria Batik Kudus

 

Selain dari Kudus, ungkap Yuli, pemesan batik tulis khas Kudus juga datang dari sejumlah pembeli dari Jakarta, termasuk dari perusahaan yang hendak dijadikan tanda mata untuk tunjangan hari raya.

Meskipun pesanan mengalami lonjakan hingga puluhan persen, dibanding hari-hari biasa, harga jual batik tulis setiap potongnya tidak mengalami kenaikan. Harga jual yang ditawarkan antara Rp 100 ribu hingga Rp 1 juta per potong, yang disesuaikan dengan motif dan tingkat kesulitan dalam proses pembuatannya.

Yuli memperkirakan, lonjakan permintaan akan terlihat kembali pada saat lebaran, karena pengalaman sebelumnya banyak pemudik yang membeli batik tulis khas Kudus untuk dijadikan oleh-oleh khas selain makanan khas Kudus.

 

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/ramadhan/kabar-ramadhan/12/08/01/m82ynu-selama-ramadhan-batik-kudus-laris-manis?

Motif Batik Kudus “Kapal Kandas”, Dulu Pernah Berjaya

Kudus – Yuli Astuti adalah perempuan yang berhasil mengembalikan kejayaan batik Kudus menjadi kekayaan budaya nasional dan salah satu motif yang paling khas dibanding batik di daerah lain adalah Kapal Kandas.

Perempuan yang lahir pada 15 Desember 1980 ini awalnya mengikuti pertemuan yang diadakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Rembang untuk pelatihan membatik bersama 9 orang lainnya. Dari acara tersebut ia akhirnya mengetahui bahwa Kudus pernah berjaya dalam pembuatan batik, kemudian ia sangat tertarik dan termotifasi untuk mengangkat kembali batik yang sempat tenggelam di kota kretek tersebut, Yuli akhirnya memutuskan untuk menggali lebih dalam tentang batik Kudus.

“Pertamanya sulit untuk mencari literatur batik Kudus, tapi saya tidak menyerah” katanya (13/7) di galerinya yang beralamat di Desa Karang Malang Gebog, Kabupaten Kudus.

Untuk menggali sejarah dan pembuatan batik Kudus saya harus ke Jogja, Solo dan Pekalongan dengan bersepeda motor hanya untuk belajar dan menggali tentang batik Kudus” paparnya. Dia juga menambahkan dirinya harus menapak tilas kejayaan batik Kudus dari berbagai sumber.

Baca Juga :  Klasik nan Futuristik Batik Muria Kudus

Yuli menceritakan, dinamakan Kapal Kandas karena ribuan tahun silam kapal Sam Po Kong yang berlayar melewati pesisir Muria kandas karena rusak, para penumpang asal negeri tirai bambu tersebut akhirnya banyak yang bermukim di lereng Muria, cerita tersebut akhirnya diabadikan dalam motif batik oleh masyarakat Kudus. Lebih lanjut Yuli menceritakan batik Kudus mengalami kejayaannya di tahun 1930an dengan berbagi motif yang didominasi corak pesisir yang berwarna-warni dan akulturasi kebudayaan china. Tak hanya itu motif kaligrafi dan kebudayaan Islam juga mengilhai pembuatan batik karena pengaruh para wali yang menyebarkan agama di Kudus.

Menurut Yuli sebelum Pekalongan dikenal sebagai kota batik, Kudus lebih dulu dikenal sebagai pelopor di Jawa Tengah selain Solo. Bahkan para perajin di Pekalongan dulu banyak memuat motif Kudus untuk diproduksi. Baru di akhir tahun 1970an batik Kudus mengalami penurunan karena banyak masyarakat Kudus yang memilih untuk menjadi pengusaha rokok kretek, bahkan di tahun 1990an hingga tahun 2000an batik sama sekali tak dikenal.

Kerja kerasnya selama kurun waktu 7 tahun, pada tahun 2007 akhirnya batik Kudus kembali dikenal, tidak hanya di kancah nasional namun juga banyak diburu oleh kolektor luar negeri. Usaha kerasnya yang harus menggali sendiri literasi dan sejarah tentang batik Kudus sekarang membuahkan hasil. Banyak sekali artis dan pejabat yang memakai batik karya-karyanya, salah satunya mantan Ibu negara Ani Yodhoyono dan beberapa artis lain.

Dalam membuat batik Kudus ia tak melupakan Kapal Kandas, namun ia juga mengeksplorasi berbagai macam motif lain yang ia ciptakan sendiri dengan mengambil inspirasi dari hasil alam di Kudus, seperti Pari Jotho, Beras Kecer dan Pakis Haji dan semua motif batik yang dibuatnya mempunyai filosofi masing-masing. Karyanya tersebut ia perlihatkan di galerinya yang ia beri nama “Muria Batik Kudus”

 

Sumber : http://kabarseputarmuria.com/?p=5562

 

Klasik nan Futuristik Batik Muria Kudus

TRIBUNNEWS.COM – BATIK Muria Kudus saat ini sudah mulai mendapat sentuhan modern. Tak heran, motif dan ornamen yang melekat di kain tersebut menjadikan batik Muria Kudus bergenre klasik nan futuristik.

Menurut pemilik Muria Batik, Yuli Astuti (31), batiknya memang beda daripada batik pada umumnya. Ia masih melestarikan batik tradisi kuno khas Kudus. Corak dan warnanya pun berbeda dari batik kebanyakan. Namun, ia tetap berusaha untuk memasukkan warna modern, sehingga tak ketinggalan mode.

Harga Batik Muria dengan corak kuno tradisional maupun sedikit sentuhan futuristik, dibanderol dari Rp 2 juta-Rp 6 juta per helai. Tertinggi, ia pernah menjual seharga Rp 18 juta. Tingginya harga, karena proses pembuatan batik klasik biasanya memakan waktu 4-8 bulan.

 Selain batik kuno, Yuli juga memproduksi batik sederhana dengan kisaran harga Rp 200 ribu -Rp 500 ribu, dengan ukuran 2,5 meter.

 

SANGGAR MURIA BATIK

EDUKASI BUDAYA SEJAK DINI

KUDUS – Tahun 70 an ketika batik kudus sudah punah generasi penerus batik kudus hampir punah

Beruntung tahn 2005 tinggal 1 orang alm bu ni’amah yg masih bisa membatik dan ini menjadi titik awal perjalanan muria batik kudus untuk melestarikan batik kudus

Batik kudus yang keberadaan yg sudah mati suri saat ini MURIA BATIK sudah mewarnai bagian dari karya batik indonesia

Sebagai wujud kepedulian untuk pelestarian dan pengenalan budaya batik sejak dini maka SANGGAR MURIA BATIK siap kapanpun untuk mengajar membatik.

BUKA LINK VIDEO SANGGAR MURIA BATIK DI https://www.facebook.com/muriabatik/videos/1587406778002464/

Outdoor Activity Muria Batik

Kudus – Selasa (19/03/2017) merupakan hari yang sangat menyenangkan bagi siswa-siswi SDIT Luqman al Hakim Kudus.

Betapa tidak, kegiatan pembelajaran yang biasanya berjalan di kelas di laksanakan di Muria Batik yang dikemas dalam kegiatan Outdoor Activity, sesuai dengan namanya kegiatan ini diharapkan mampu memberikan kesegaran fikiran, kesegaran fisik dan tentunya pengalaman keterampilan membatik yang boleh jadi belum  didapatkan ketika pembelajaran di kelas.

Siswa sungguh menikmati kegiatan tersebut apalagi setelah beberapa hari mereka sudah menyelesaikan kegiatan Ulang Tengah Semester II (UTS). Tidak hanya siswa ustadz – ustadzah pun sangat menikmatinya.

Walaupun terasa lelah dan capek namun mereka tetap semangat untuk mendampingi anak-anak, rasa capek dan lelahpun hilang ketika melihat siswa – siswi begitu senang,  gembira dan tampak ceria.

Outdor Activity SDIT Luqman al Hakim merupakan kegiatan rutin dilakukan oleh sekolah setelah selesai kegiatan UTS. hal ini untuk membentuk karakter anak didik, melatih kerjasama dan melatih keterampilan mereka. (N/R)

 

Sumber : http://sditluqmanalhakim.sch.id/aktivitas-siswa/outdoor-activity-muria-batik

Perajin Buat Mukena dan Sajadah Batik

KUDUS — Perajin batik di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, membuat inovasi baru berupa mukena dan sajadah batik. Hal itu bertujuan untuk mengenalkan dan melestarikan batik Kudus serta memperkaya motif mukena dan sajadah.

Pembatik Muria Batik Kudus, Yuli Astuti, Jumat (6/8/2012), mengatakan, para pembatik mengembangkan dua jenis mukena batik. Ada mukena yang atasan dan bawahan di batik dan ada pula mukena yang atasannya bordir dan bawahan berupa kain batik.

Pengerjaannya menggunakan teknik batik tulis. Motifnya beragam, mulai dari motif kaligrafi, menara Kudus, dan parijoto atau buah khas Pegunungan Muria Kudus.

“Harganya mulai dari Rp 200.000-Rp 850.000 per setel. Lantaran baru diperkenalkan, kami baru memproduksi sebanyak 25 mukena yang dipesan dari Jakarta, Lampung, dan Kudus sekitarnya,” kata Yuli.

Baca Juga :

Strategi Muria Batik Memasarkan Produk Lokal dalam Persaingan Global

Koleksi Sajadah Batik di Muria Batik Kudus

Adapun sajadah, kata Yuli, telah diproduksi para pembatik sejak setahun lalu. Tekniknya bisa batik cap atau tulis dengan motif masjid, menara Kudus, dan kaligrafi.

Peminatnya cukup banyak, terutama dari Jakarta dan Lampung. Pada tahun lalu, sajadah seharga Rp 100.000-Rp 350.000 itu terjual 2.000 potong.

“Pada tahun ini setidaknya hingga menjelang Ramadhan sudah terjual 1.500 potong. Saat ini, kami sedang memenuhi permintaan pembeli dari Jakarta sebanyak 600-1.000 potong,” kata Yuli.

Salah seorang pembeli asal Kudus, Sarofah (31), mengaku tertarik membeli mukena batik karena termasuk inovasi baru. Selama ini, mukena yang dijual di pasaran hiasannya memakai bordir.

“Saya membeli mukena batik untuk suvenir tamu dari Jakarta. Kebetulan momennya tepat, saat Ramadhan,” kata Sarofah.

 

Sumber : http://regional.kompas.com/read/2012/08/06/14535918/Perajin.Buat.Mukena.dan.Sajadah.Batik

Strategi Muria Batik Memasarkan Produk Lokal dalam Persaingan Global

Kudus – Universitas Muria Kudus (UMK) gelar Seminar Manajemen dan Goes to UMKM bertajuk “Mengembangkan UMKM yang Kuat Guna Memenangkan Persaingan Global” di Auditorium Kampus UMK, Senin (13/3/2017). Hadir sebagai salah satu pembicara ialah Yuli Astuti dari Muria Batik.

Yuli Astuti menyampaikan bahwa, untuk membuka sebuah usaha, modal finansial bukanlah hal utama yang paling menentukan.

“Yang terpenting adalah tekad dan kemauan keras untuk belajar dan menekuni sebuah usaha,” kata Yuli dalam paparan materinya.

 

Baca Juga :

Ini Sosok Pengusaha Perempuan Inspiratif Asal Kudus

Yuli Astuti, Demi Selembar Kapal Kandas

 

Yuli menuturkan, dirinya menekuni usaha batik karena prihatin dengan hilangnya Batik Khas Kudus. “Saya kemudian bertekad belajar serius sejak 2005, dan selama tiga tahun pertama belum banyak menghasilkan (keuntungan), sehingga hampir putus asa,” kisahnya.

Dia pun mengaku terpanggil untuk bertahan dan lebih serius memproduksi batik khas Kudus, sehingga buahnya pun sudah bisa dirasakan.

“Kini batik Kudus sudah dikenal luas. Saya sudah sering melakukan pameran ke berbagai kota, bahkan ke luar negeri,” paparnya.

Acara yang dibukan oleh Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Muria Kudus (UMK), Dr. H. Mochamad Edris tersebut, hadir pula sebagai narasumber, selain Yuli Astuti, seperti M. Ikrom dari marketing dari PT. Mubarokfood Cipta Delicia) dan Nono Anik Sukasni dari Prima Pradnadita (Saqinano). (Rosidi)

 

Sumber : https://nusantaranews.co/strategi-muria-batik-memasarkan-produk-lokal-dalam-persaingan-global/

Ini Sosok Pengusaha Perempuan Inspiratif Asal Kudus

Kudus – Yuli Astuti merupakan salah satu dari sekian ratus pengusaha sukses di Kudus yang merintis usahanya dari nol. Kegigihannya membangun usaha yang sekaligus menyelamatkan motif batik khas Kudus dari kepunahan 10 tahun silam, ternyata membawa dirinya pada kesuksesan dan menjadi sosok yang menginspirasi.

Yuli begitu ia disapa, mengungkapkan awalnya batik Kudus mengalami kepunahan pada tahun 1970. Pada tahun 2005, Niamah yang saat itu berusia 70 tahun merupakan satu-satunya perajin batik Kudus yang masih hidup. Dan dari situlah, ada pihak terkait langsung mengadakan pelatihan yang diikuti 20 orang yang diajari membatik langsung oleh Niamah, termasuk Yuli sebagai pesertanya.

Baca Juga :

Yuli Astuti, Angkat Kembali Kapal Kandas Batik Kudus

Batik Kudus Masih Berpeluang Diekspor

 

Sumber : https://bisnisukm.com/ini-sosok-pengusaha-perempuan-inspiratif-asal-kudus.html

Langkah Strategis Batik Muria Untuk Bertahan Hadapi Persaingan

Kudus – Muria Batik Kudus yang berdiri sejak 15 Desember 2005 bermula sebagai UKM yang memunculkan kembali eksistensi batik khas Kudus yang pernah ada saat tahun 60-an. Kehadiran kembali batik Kudus juga ada stimulan dari pemda Kudus yang diprakarsai oleh Dinas Perekonomian, Deskranada, dan Disperindagkop Kabupaten Kudus. Stimulan itu berupa dukungan, bimbingan, arahan, dan pelatihan batik kepada pengelola dan pemilik Muria Batik Kudus yaitu Yuli Astuti.

Hingga saat ini, Muria Batik Kudus masih mampu bertahan di tengah ketatnya persaingan dan terus menghasilkan produk batik khas Kudus, di antaranya batik klasik Kapal Kandas, Tribusono Kelir, Buket Parijoto, Merak Katlea, dan puluhan motif khas Kudus lainnya.

Langkah strategis apa saja yang diambil Yuli Astuti untuk bisa bertahan hingga saat ini.

 

Sumber : https://bisnisukm.com/langkah-strategis-batik-muria-untuk-bertahan-hadapi-persaingan.html